Oleh : Mohammad Ikhwanuddin, SHI., MHI, Pendidik di Prodi Hukum Keluarga Islam UMSurabaya.

“ Assalamualaikum, Pak Fajar. Saya Mohammad Ikhwanuddin (0711098602) dari Prodi Hukum Keluarga Islam Semester 7. Mohon Maaf, mau bertanya. Apakah Bapak Fajar bisa mengajar daring di kelas mata kuliah Tafsir Hukum keluarga, Senin Jam 08.00 besok? Terima kasih. “

Penggalan kalimat di atas, merupakan salah satu contoh tips menulis sms atau pesan pendek kepada dosen atau pimpinan, baik di level prodi maupun fakultas. Tips di atas menjadi penting, meski tidak perlu sekaku “kode etik”, namun beberapa bagian dalam pesan tersebut bisa membantu penyampaian dan penerimaan pesan secara lebih baik.

Secara umum, tips sms di atas terdiri dari 5 bagian, yaitu (1) salam, (2) sapaan, (3) perkenalan diri, (4) tujuan sms dan (5) terima kasih.

Pertama salam, penggunaan salam “Assalamualaikum” dalam diskusi pembuka sangat dianjurkan. Selain telah menjadi etika sosial, ada nilai ideologis dalam penggunaan salam “Assalamualaikum”.

Nabi Muhammad memerintahkan penggunaan salam terlebih dahulu saat memulai pembicaraan. Al-salām qabl al-kalām (salam itu sebelum percakapan), begitu bunyi salah satu pesan profetik dalam Sunan al-Turmūdhī, hadis nomor 2699. Meski beberapa kritikus hadis melemahkan (taḍ‘īf) hadis ini, dengan beberapa lajur sanad lain dan hadis lain (al-shawāhid), hadis ini dinilai beberapa komentator hadis, di antaranya al-Bāny, sebagai Hadis berkualitas Hasan.

Selain itu, meski ada beberapa pilihan salam lain (misal “selamat pagi” atau ṣabāh al-khayr ) penggunaan salam ini juga menjadi karakter dan identitas muslim. Salah satu pesan Nabi untuk menebarkan kasih sayang bisa dimulai dari penyebarluasan salam. Afshaw al-Salām (sebarkanlah salam). Begitu perintah sekaligus tips dari Nabi, sebagaimana riawat Imam Muslim dalam al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ, hadis no.203. Allah juga menitahkan untuk berucap “salām ‘Alaykum” dalam al-An‘ām :53 dan al-Naḥl :32.

Kedua, sapaan. Sapaan ini bisa penting, bisa tidak. Tapi dalam komunikasi yang efektif, untuk guna meminimalisir dugaan salah kirim, penyebutan sapaan nama orang yang sedang diajak bicara menjadi penting. Sebut saja, sapaan “Pak Fajar”, atau “Bu Maryam”, misalnya, setelah menulis salam.

Ketiga, perkenalan diri. Salah satu yang terkadang tidak saling difahami antara mahasiswa dan dosen adalah bahwa dosen tidak hanya mengajar 1 kelas saja. Pun, terkadang dosen tidak menyimpan seluruh nomor peserta didik. Paling tidak, tentu tidak bisa dipastikan, nomor PJMK (Penanggung Jawab Mata Kuliah) yang disimpan.

Maka memperkenalkan diri, bukan semata “show up” agar dikenal (padahal penting juga dikenal pendidik), tapi agar penerima pesan bisa langsung memahami siapa orang yang mengirim pesan. Nama, Prodi, dan Semester, adalah 3 komponen inti yang bisa dipertimbangkan saat memperkenalkan diri.

Contoh pesan sms via wa, yang sempat dibagikan oleh Yanwar Pribadi, pendidik di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, di laman Facebooknya, 22 Oktober 2020

Keempat, tujuan sms. Usahakan penulisan tujuan sms jelas dan ringkas. Terkait konfirmasi kehadiran dosen, janji untuk bertemu dan meminta paraf, kesediaan bimbingan, dan lain-lain, perlu diungkapkan langsung, singkat, dan ada dalam bagian sms.

Perlu dipertimbangkan untuk menggunakan diksi “Mohon maaf”. Bisa digunakan, bisa tidak. Jika digunakan, tentu maksud dari “Mohon maaf” ini bukan terkait ungkapan permintaan ampun atau penyesalan. Tapi diksi ini, sebagaimana KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) ulas, juga berartikan “ Permintaan izin untuk melakukan sesuatu”.

Kelima, terima kasih. Ungkapan “terima kasih” merupakan ekspresi penghargaan dan wujud syukur. Penghargaan atas kemampuan menjalin komunikasi, penghargaan atas waktu dan kesempatan, juga penghargaan atas orang lain.

Dalam diksi yang sederhana, “terima kasih” mengajarkan untuk bersifat apresiatif pada orang lain. Pada sebuah kolom Lifestyle terkait parenting di Kompas Tahun 2013 silam, salah satu pendidikan karakter dalam lingkup keluarga adalah pengenalan beberapa kosakata yang sopan seperti “permisi”, “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih”.

Selain itu, “terima kasih” juga merupakan ekspresi syukur. Sementara syukur itu bukan hanya kepada Allah, tapi juga perlu diimplementasikan dalam kehidupan bersama masyarakat. Bahkan, pembelajaran teologis untuk bersyukur kepada Allah, justru harus dimulai dengan syukur kepada sesama atau orang lain.

“Barang siapa yang tidak bersyukur kepada orang lain, ia tidak akan bersyukur pada Allah”. Begitu ajaran Nabi Muhammad, sebagaimana riwayat Imam Aḥmad dalam Musnad Aḥmad bin Ḥanbal hadis nomor. 7495.

 1,099 total kunjungan,  2 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment