Oleh : Mohammad Ikhwanuddin, SHI., MHI, Remas Masjid dan alumni Pesantren. Kini mengabdi sebagai Pendidik di Prodi Hukum Keluarga Islam UMSurabaya.

Di Masjid Nurus Syafii Rahmah Wedi, pengajian hadis rutin Kitab Mukhtār al-Aḥādīṡ al-Nabawiyyah wa al-Ḥikam al-Muḥammadiyyah karya Sayyid al-Hāsyimī Bik, asuhan Gus Wahid Harun, telah memasuki pelajaran ke 22, bab tentang sesuatu yang disunnahkan untuk dikerjakan, kepada al-Muḥtaḍar dan al-Mayyit, Ahad 14 Pebruari 2021.

Al-Muḥtaḍar, berbentuk isim maf‘ūl dan berasal dari akar kata ḥaḍara (hadir), dirtikan sebagai orang yang sedang didatangi kematian. Kamus al-Munawwir mengartikan kata al-muḥtaḍar sebagai orang yang berada dalam detik kematiannya/hampir mati (A.W Munawwir, h.273). Pemaknaan al-muḥtaḍar selaras dengan nukilan ayat Sūrat al-Baqarah :180, idhā ḥaḍara aḥadakum al-maut, jika maut hendak menjemput seseorang di antara kamu.

Mengani al-muḥtaḍar, hadis yang dinukil riwayat Imam Muslim dari Abu Sa‘īd al-Khudrī. Rasulullah bersabda:

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

“ tuntunlah (talqin) orang yang mau meninggal (untuk mengucapkan) lā ilāha illa Allah

Hadis ini berada dalam Kitab Imam Muslim No. 2162 dan 2164 (riwayat Abu Hurairah). Selain itu, Kolektor hadis (mukharrij) lain juga meriwayatkan teks senada, yakni Abū Dawūd hadis No. 3119, al-Turmudhī No.976, al-Nasā’ī No.1826, Ibnu Mājah No.1444, Musnad Aḥmad Ibn Ḥanbal No.11006, dan beberapa kitab hadis lain.

Imam al-Nawāwi dalam al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bin Ḥajjāj, atau dikenal dengan sebutan Syarah Sahih Muslim, mengomentari bahwa hadis tersebut adalah perintah supaya menuntun orang yang akan meninggal (man ḥadarahū al-maut) dengan ucapan lā ilāha illa Allah, supaya kalimat ini (disebut juga tahlīl) menjadi kalimat terakhir saat hidupanya.

Melalui hadis ini pula, Imam al-Nawawi juga menyimpulkan hal yang menjadi kesepakatan ulama (mujma’ alaih) mengenai perintah untuk mendampingi orang yang hendak meninggal dunia dengan mengingatkannya (tadhkīr) akan kalimat lā ilāha illa Allah, bersikap ramah dan lembut padanya (ta’nīs), menutup kedua matanya (ighmāḍ ‘ainaih), serta memenuhi hak-haknya (al-qiyām bi ḥuqūqih).

Pada poin tentang menutup kedua mata, Kitab Mukhtār al-Aḥādīṡ mengutip hadis riwayat Imam Muslim, dari Ummu Salamah, yang mengisahkan tentang kematian Abu Salamah (Abdullah bin Abd al-Asad bin Hilal).

Saat sahabat Abu Salamah meninggal dunia, Nabi kemudian menutup kedua mata Abu Salamah, sembari bersabda : “Sesungguhnya ruh tatkala dicabut, mata akan mengikutinya, lalu keluarganya akan menangisi kepergiannya”.

Kemudian, Nabi mendoakan Abu Salamah, dengan redaksi berikut:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَبِى سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِى الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِى عَقِبِهِ فِى الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِى قَبْرِهِ. وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya di tengah-tengah kaum yang mendapat hidayah, berilah dia penggantinya di dalam orang-orang yang ditinggalkan sesudahnya, ampunilah kami dan dia, wahai Tuhan semesta alam, lapangkanlah kuburnya dan sinarilah dia di dalamnya”.

Doa tersebut, menjadi doa alternatif lain yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, selain doa yang telah masyhur riwayat Muslim dari ‘Auf bin Mālik, dan Kitab Mukhtār al-Aḥādīṡ telah menyebutkannya di pelajaran pekan silam yang ke-21, mengenai Jenazah dan Mengantarkannya ke Pemakaman (al-janāzah wa tasyyī‘ihā), yaitu :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

“Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia, maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia, luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air, salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau telah membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), pasangan yang lebih baik daripada pasangannya (di dunia), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan neraka

Perawi pertama hadis tersebut, Auf bin Mālik sampai berkomentar “Aku berharap, bahwa aku saja yang menjadi mayat tersebut” (tamannaitu an akūna anā dhālik al-mayyit), karena keindahan dan keagungan muatan doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah kepada jenazah tersebut.

Itulah hadis terkait talqīn dan doa untuk mayit. Selain itu, ada pesan menarik dalam hadis mengenai doa pada mayit. Di hadis riwayat Muslim di atas, sebelum Rasulullah mendoakan Abu Salamah, Rasul memberikan pesan :

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ

Janganlah kalian mendoakan untuk diri kalian, kecuali dengan doa kebaikan. Karena para Malaikat turut mengamini atas apa yang engkau katakan”.

Dalam adab berdoa, prinsip yang hendak diajarkan oleh Rasulullah adalah berdoa dengan harapan kebaikan. Tidak sekali-kali mendoakan keburukan, bahkan untuk diri sendiri. Karena ada makhluk Allah yang lain, yang akan mengamini apa yang kita katakan. Jika kita katakan yang baik, Malaikat mengamini. Jika kita mengatakan yang buruk, Malaikat juga mengamini.

Pengetahuan modern mengimajinasikan prinsip ini sebagai “Law of Attraction” (Hukum Tarik-menarik), sebagaimana yang diintrodusir oleh Rhonda Byrne dalam buku The Secret. Secara sederhana,  Prinsip “Law of Attraction” mengajarkan bahwa apa yang kita katakan -bahkan kita pikirkan- akan menarik respons alam semesta untuk mengiyakannya. Terlepas baik ataupun buruk. Itulah hukum tarik-menarik.

Jika kita berprilaku atau berkata buruk, maka “alam” akan merespons dengan dentum dan sinyal keburukan yang sama. Sebaliknya, jika kita berbuat atau berkata baik, maka “alam” akan merespons dengan kebaikan pula. Byrne lebih ekstrem, katanya, apa yang pikiran akan menjadi kenyataan.

Pada saat itulah, relevansi pesan kenabian terasa lebih kuat. Pada diri kita sendiri, kita diminta untuk selalu mendoakan kebaikan. Pun juga kepada orang lain, termasuk pada orang yang sudah meninggal, kita diajarkan untuk mendoakan kebaikan padanya.

Karena suatu saat nanti, di mana kita tak mampu mengucapkan doa meski kepada diri sendiri, kita membutuhkan doa kebaikan dari orang lain, juga orang atau keluarga, yang dengan ikhlas dan sabar mengajari kita mengeja, lā ilāha illa Allah.

 82 total kunjungan,  1 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment