Gadget atau biasa juga kita sebut dengan gawai adalah salah satu media komunikasi yang digunakan di era modern ini, kemajuan teknologi membuat design serta fitur gawai semakin mempermudah pengguna dalam menyelesaikan segala aktivitasnya. Terlebih lagi, di era pandemi seperti ini. Peranan gadget atau gawai sangat berperan penting dalam segala aspek kehidupan.
Pandemi covid – 19 yang menyebabkan banyak jatuhnya korban, membuat pemerintah mengambil keputusan dalam mengatur kehidupan masyarakat yang lebih teratur untuk menghindari banyaknya korban covid-19 lagi, segala cara telah dilakukan. Dari sekolah, kuliah, bekerja, hingga masalah bertransaksi (m-banking, e-wallet, misalnya) dari ke semua itu dialihkan via daring (dalam jaringan).
Lalu, taukah kamu? Bahwa gadget memiliki nilai positif dan negatif. Begitu banyak nilai positif dalam pemakaian gawai, akan tetapi sadarkah kita? Jika gawai juga bisa menjadi nilai negatif bagi kepribadian kita, tak hanya kepribadian bahkan kesehatan. Riset menunjukkan kebanyakan pengguna gawai yang candu tanpa sadar merusak matanya, sinar biru yang terpancar dari gawai mempengaruhi kerusakan mata, akibatnya mata kita bisa menjadi minus atau bahkan mengalami kebutaan, pengaturan cahaya dalam sebuah layar gadget juga sangatlah penting, selain itu kadang kita memakai gawai tanpa kenal waktu menyebabkan kita terus menatapmya dalam keadaan posisi membungkuk, yang menyebabkan tulang punggung kita mengalami pembengkokkan, dalam dunia kesehatan disebut juga dengan Skoliosis, yang lebih sering ditemukan pada anak-anak sebelum masa pubertas, yaitu sekitar usia 10 – 15 tahun, bisa menjadi hal fatal seiring bertambahnya usia, khususnya pasa wanita. kita tentunya tidak mau kan ya, sebagai generasi muda mengalami hal-hal demikian yang tidak diinginkan.
Lalu hal apa yang menjadikan gadget menjadi nilai negatif bagi kepribadian kita? Sadarkah kita, seringnya bermain gadget membuat kita menjadi pribadi yang selfish atau egois. Banyaknya fitur game membuat kepribadian kita dipenuhi dengan ambisi untuk menang. Nah, dari sini sadar atau tidak ketika kita berinteraksi dalam dunia nyata hal itu masih menempel dalam diri kita. Tentu saja baik, memiliki kepribadian dalam hal kompetisi, tapi sadarkah kita? Kadang saat berbicara dengan orang yang lebih tua kita menggunakan nada kompetisi itu untuk merespon mereka, yang lebih terdengar seperti membantah. Tentu saja, hal ini menjadi nilai negatif, bagi nilai kepribadian kita. Sebagai The Young Generation or The Youth atau generasi muda, bersikap bijak untuk diri sendiri sangatlah perlu, lebih-lebih dalam aspek attitude, sopan santun kita sebagai generasi muda ketika berbicara kepada mereka yang lebih tua harus kita amalkan dengan sebaik-baiknya, seperti meletakkan atau tidak bermain atau bahkan mematikan gadget saat berbicara dengan yang lebih tua, jika memakai masker maka lepaslah masker tersebut ketika sedang berbicara dengan yang lebih tua.
Jangan meminta untuk dihormati jika kita tidak membiasakan diri untuk menghormati, yang tua selalu ingin dihormati, dan yang muda selalu ingin disayangi, lantas kalau bukan kita yang bijak diri siapa lagi?.

Ika Putri Nur Hariyanti , 20181551033, Mahasiswa semester 5 Hukum Keluarga Islam, Artikel ini dibuat saat subuh waktu setempat, Tuban, 15 Oktober 2020.
#dirumahajaamaika #dirumahajadulunantijugaketemu #stayhealthystaypositivestaysafety

 130 total kunjungan,  1 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment