Oleh Mohammad Ikhwanuddin, MHI, Kaprodi Hukum Keluarga Islam UMSurabaya. (Isi tulisan pernah disampaikan dalam beberapa forum, di antaranya Ceramah Tarawih di Masjid Umar bin Khattab, Jumat 23 April 2021).

Salah satu ayat menjadi trending topic selama Bulan Ramadhan adalah ayat 183 Surat al-Baqarah. Karena dengan ayat ini, sebagaimana kata penulis Kitab al-Tażhīb fī Adillat Matn Gāyat al-Taqrīb Dr Muṣṭāfā Dīb al-Bugā, sebagai landasan formal secara mutlak yang membicarakan terkait kewajiban berpuasa (Al-Bugā 1989:102).

Allah berfirman pada Surat al-Baqarah ayat 183:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ 

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa “ (Kementerian Agama RI 2011:28)

Suasan menjelang Buka Bersama dan Sertijab di Lingkungan FAI bersama Rektor UMSurabaya Dr dr Sukadiono MM, Kamis 22 April 2021 (Dokumen Pribadi)

Pada ayat tersebut, ada diksi kutiba alaykum al-ṣiyām (diterjemahkan : “diwajibkan atas kamu berpuasa”) yang menarik untuk direfleksikan. Baik dari sisi kebahasaan maupun dari sisi implikasi maknanya di era kontemporer.

Kata “Kutiba” merupakan kata kerja yang memiliki zaman lampau (māḍī) berbentuk mabnī maf’ūl / majhūl dari lafal kataba. Dengan menggunakan format baku ḍumma awwaluhū wa kusira mā qabl al-akhīr, diksi KATABA kemudian berubah menjadi KUTIBA.

Dalam ayat tersebut, “Kutiba” diartikan sebagai “diwajibkan” (furiḍa), sebagaimana penafsir masyhur Jalāluddin al-Suyūṭī katakan dalam Tafsīr al-Jalālayn (Al-Suyūṭī and Al-Maḥallī 1954:28). Kendati demikian, makna lain Kataba adalah menulis (khaṭṭa), memberikan wasiat (awṣā) (Munawwir 1997:1187).

Jika merujuk pada makna populer “Kataba” yang berarti “menulis”, maka unsur peradaban sangat terlihat jelas dalam pesan terkait dengan puasa ini. Tulisan menjadi penanda penting dalam sebuah peradaban.

Semakin tinggi tingkat literasi masyarakat, semakin beradab sebuah bangsa. Dalam kehidupan modern yang tengah kita jalani, kecakapan literasi (baca: tulisan) menjadi tingkat keadaban dan intelektualitas seseorang.

Dalam proses pendidikan misalnya, para pembelajar akan diminta untuk menuangkan gagasan tertulis sebagai penanda purna akhir pembelajaran. Ada skripsi untuk S1, tesis untuk S2, dan disertasi untuk S3, merupakan tulisan akademik yang menjadi penanda penting peradaban seseorang. Belum lagi buku, artikel, dan jenis tulisan lainnya.

Maka salah satu pesan penting dalam pemilihan diksi “Kataba/Kutiba” di atas, adalah pesan tentang peningkatan kualitas diri melalui literasi. Bukankah pesan al-Quran datang pertama kali juga memiliki gīrah yang sama terkait literasi saat Nabi Muhammad menerima wahyu Sūrat al-‘Alaq berupa iqra’ (bacalah)?

Selain itu, jika kita terilhami dalam semangat modernitas, kewajiban -begitu juga dengan hak- yang “ditulis” akan memiliki nilai yang lebih kuat dan mengikat, daripada kewajiban yang sama yang tidak ditulis.

Kewajiban kita untuk membayar hutang, misalnya, punya kewajiban membayar yang sama, antara hutang-piutang ditulis atau pun tidak. Tapi, dengan ditulis, tentu saja kewajiban membayar hutang menjadi lebih kuat dan mengikat.

Begitu juga dengan kewajiban berpuasa. Keajiban berpuasa yang dinarasikan dengan diksi “ditulis” memiliki kewajiban yang jauh lebih kuat, meskipun kita menyadari bahwa segala amal dan kewajiban kita tentunya tetap dicatat, bahkan nanti akan diperlihatkan amal tersebut diakhirat kelak. Sebagaimana pesan dalam beberapa ayat di antaranya Al-Isrā’:71, al-Jāthiyah:28, al-Ḥāqqah:19 dan 25, al-Inshiqāq: 7 dan 10.

Maka peradaban dalam puasa, sebagaimana disampaikan dengan diksi “kutiba”, menjadi sedemikian tampak. Terlebih jika kita mengamati bahwa perintah tentang shalat pun, disampaikan oleh Allah dengan redaksi yang memiliki akar derivatif (mushtāq) yang sama dengan kutiba.

Allah berfirman dalam Sūrat al-Nisā’ ayat 103:

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبٗا مَّوۡقُوتٗا   

“ Sungguh, shalat itu adalah kewajiban (kitāban) yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (Kementerian Agama RI 2011:95)

Puasa dan Shalat merupakan 2 dari 5 prinsip utama (arkān) Islam yang dituangkan narasi kewajibannya dengan menggunakan akar kata tulisan, kataba-yaktubu-kitāban. Secara redaksional pesan peradaban tersebut bisa teramati dengan jelas.

Ada pesan peradaban lain dalam puasa, yang tidak teramati dengan jelas dan butuh puluhan tahun pengamatan. Seorang ilmuan dari Jepang bernama Yoshinori Ohsumi yang melakukan penelitian terkait protein authophagisom dalam konsep authopagi (membuat tubuh lapar).

Dalam kerja riset akademik yang dilakukan selama 30 Tahun, Yoshinori menyimpulkan bahwa dalam tubuh ada mekanisme unik yang memungkinkan sel yang masih sehat memakan (auhtopagi juga bermakna self eating, memakan diri) sel lain yang sudah mati dan rusak dan perpotensi membahayakan tubuh.

Mekanisme tersebut secara otomatis bisa berjalan saat tubuh dipaksa untuk menahan lapar selama kisaran 8 -16 jam. Yoshinori Ohsumi telah mendapatkan hadiah Nobel (lihat www.nobelprize.org) pada Tahun 2016 atas penelitiannya ini. Riset terkait dengan sel kanker dan kuman, termasuk virus dan bakteri, turut berkembang atas simpulan ini.

Umat Islam menjadi semakin yakin bahwa aktivitas menahan lapar dahaga pada Bulan Ramadhan ini punya pijakan argumentasi sains dan medis yang kuat. Pesan “berpuasalah niscaya kamu sehat” (Ṣūmū taṣiḥḥū) memiliki pesan peradaban, modern, dan kontemporer dalam akar pengalaman masyarakat kekinian.

Pesan masyhur tersebut telah diidentifikasi ke dalam hadis yang lemah oleh para kritikus hadis di antaranya Ibnu Ady dalam al-Kāmil fi al-Ḍuafā’ (3/227), Ibn al-Qaisarānī dalam Dhakhīrat al-Ḥifāẓ (3/1429), al-Ṣagāni dalam Mauḍū‘āt al-Ṣagānī (51), al-Īrāqī dalam Takhrīj al-Iḥyā (3/108), al-Uqaylī dalam al-Ḍu‘afā al-Kabīr (2/92) juga al-Bānī dalam Ḍa‘īf al-Jāmi‘ (3504) dan al-Silsilah al-Ḍa‘īfah (253).

Kendati demikian, kritikus terakhir, al-Bānī, kendati yang telah memasukkan redaksi Ṣūmū taṣiḥḥū ke dalam rangkaian hadis yang lemah, justru memasukkan redaksi yang sama dalam rangkaian hadis shahih (al-silsilah al-ṣaḥīḥah, 7/1066).

عن عبدالله بن عباس: سَافِرُوْا تَصِحُّوْا وَصُوْمُوْاتَصِحُّوا وَاغْزُوْا تَغْنَمُوا

“ Dari Ibnu Abbas berkata, lakukanlah perjalanan niscaya kamu sehat, berpuasalah niscaya kamu sehat, dan ikutlah berperang niscaya kamu mendapatkan keuntungan (ganīmah, harta rampasan perang).

Terlepas dari sisi isnād (mata rantai hadis) yang diperselisihkan, puasa memiliki pesan peradaban yang kuat tentang menjaga kesehatan. Riset-riset mutakhir semakin mengonfirmasi bahwa aktivitas berpuasa semakin menunjukkan pada peningkatan kualitas diri dan tubuh yang lebih baik.

Oleh karena itu, dalam puasa yang tengah kita jalani, pesan peradaban tentang literasi dan medis menjadi dentum pilihan refleksi yang bisa kita ketengahkan bersama. Bahwa puasa, mengajarkan kita untuk semakin sadar urgensi literasi, dan bahwa puasa mengajarkan kita untuk menjaga kesehatan.

 145 total kunjungan,  1 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment