10 November 2020, hari ini, kita kembali memperingati Hari Pahlawan, sejak ditetapkan pada 1958, enam puluh dua tahun silam memalui Kepres 316 Tahun 1959. Sebuah peringatan tentang aksi heroik warga Surabaya dan Indonesia dalam mempertahankan martabat dan marwah bangsa atas kesewenangan penjajah, Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) dan sekutu, pada 10 November 1945.

Kepahlawanan memang identik, tapi tidak semuanya, dengan peperangan. Karena kepahlawanan memiliki karakter, sebagaimana KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) rinci, sifat pahlawan seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan. Sifat itulah yang seringkali melekat pada sosok pejuang dalam peperangan.

Maka tidaklah mengherankan, diksi “pahlawanan” senantiasa memiliki relasi kuat dengan peperangan. Dalam beberapa sumber bacaan, term kepahlawanan juga berkaitan dengan konflik perang (al-qitāl). Al-Jazeera pernah menulis metode kepahlawanan (madhāhib al-buṭūlah) dan semua berada di jalur perang.

Tentu saja, tidak semua pahlawan, yang telah diberi tanda “Pahlawan” di Indonesia khususnya, berkaitan dengan peperangan. Ada beberapa pahlawan, yang telah dinilai berjasa bagi Bangsa Indonesia dan turut memajukan masyarakat Indonesia telah dan layak disematkan gelar Pahlawan Nasional, salah satunya adalah KH Ahmad Dahlan.

Melalui Keputusan Presiden No. 657 tahun 1961, K.H Ahmad Dahlan diberi gelar pahlawan nasional atas jasa-jasanya dalam membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia melalui pembaharuan Islam dan pendidikan.

Ruhana Kudus, juga merupakan contoh lainnya. Pahlawan yang ditetapkan pada November 2019 ini dinilai berjasa atas inisiatifnya dalam pengembangan literasi masa awal Indonesia. Perempuan pendiri surat kabar Soenting Melajoe pada 10 Juli 1912 dianggap sebagai Pionir Jurnalis Perempuan asal Sumatera Barat.

Jika menyebut contoh, tentu ada banyak yang bisa disebut. Meski diaroma “Hari Pahlawan” berkaitan erat dengan ghirah perlawanan dan peperangan, namun sifat kepahlawanan bisa muncul pada orang dengan karakter kepahlawanan yang berani, rela berkorban, dan satria pada bidang masing-masing.

Saat ini, Pada tahun 10 November 2020, dengan mengambil tema Hari Pahlawan “ Pahlawanku Sepanjang Masa”, Indonesia akan menganugerahi gelar pahlawan pada 6 tokoh Indonesia atas jasa-jasanya.

Lalu, sebagaimana judul, adakah “Pahlawan Pandemi” saat ini? Yang memiliki karakter kepahlawanan dan layak dipanggil sebagai pahlawan. Atau, kita menunggu 60 tahun kemudian, untuk mengapresiasi bahwa ia atau mereka layak disematkan pahlawan.

Atau, di tengah pembelajaran dari rumah dan pendidikan serba daring, masihkah guru dianggap sebagai “Pahlawan tanpa Tanda Jasa? Ataukah, ini kalimat pejoratif untuk sesekali menghibur pendidik, dengan tuntutan pendidikan yang semakin tinggi dan apresiasi yang belum optimal.

Menurut kamu, siapakah yang layak kamu sematkan sebagai pahlawan pandemi 2020 ? Jawaban di kolom komentar, akan semakin memperkaya refleksi kita akan peringatan Hari Pahlawan di tengah masa Pandemi Covid-19. Terima kasih.

 2,662 total kunjungan,  1 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment