Salah satu ciri perkembangan peradaban umat manusia adalah kemajuan terkait penanda waktu, dan kalender menjadi salah satu kajian penting di dalamnya. Beberapa ibadah umat Islam, erat kaitannya dengan waktu. Semua bersepakat, bahwa penyatuan kalender merupakan kepentingan umat Islam Global. Hanya saja, apakah penyatuan kalender menjadi kebutuhan yang mendesak (ḍarūry) atau sebatas kebutuhan sekunder (ḥājiyah) semata, belum ada kesepahaman terkait ini.

Flyer Webinar Falak Virtual HKI UMM, di mana Dosen HKI UMSurabaya Dr Sriyatin menjadi salah satu narasumbernya, Sabtu, 26 Desember 2020

Hal ini muncul dalam diskusi virtual “ Kalender Islam Global ; Penyatuan Waktu Ibadah Umat Islam Dunia”, Sabtu, 26 Desember 2020. Diskusi yang digagas oleh Prodi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang, menghadirkan salah satu Dosen Hukum Keluarga Islam UMSurabaya Dr Drs Sriyatin Shodiq, SH, MH, MA (Wakil Ketua PA Lamongan dan Ketua Yayasan Falakiyah Surabaya), dan Mutoha Arkanuddin (Direktur Lembaga Rukyah Hilal Indonesia).

Mutoha tidak menampik adanya urgensi kalender global, hanya saja semakin beragam kriteria visibilitas hilal, menjadikan diskusi semakin panjang. Mulai Kriteria Al Khawarizmi, Ibn Maimun, Ibn Qura, Sullam, Babilon, SAAO, Schaefer, Bruin, hingga kriteria Kriteria Yallop, Ilyas, Danjon, Mabims, RHI, LAPAN. Terlebih, lanjut Mutoha, ada “tembok besar fikih” dalam dimensi ini yang cukup tebal, dan telah mengakar kuat, termasuk terkait dengan legitimasi ru’yah dan potensi ikhtilāf di dalam fikih.

Kendati demikian, dengan merujuk pada konferensi Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Istanbul Turki Tahun 2016, dan “Rekomendasi Jakarta 2017” hasil  Seminar Fikih Falak Internasional “Peluang dan Tantangan Implementasi Kelender Global Hijriyah Tinggal “, Jakarta 28-30 November 2017, Sriyatin percaya bahwa kepentingan penyatuan kalender Islam Global dipengaruhi dan berpengaruh bagi politik Islam Global ke depan.

Pengajar Mata Kuliah Ilmu Falak di Prodi Hukum Keluarga Islam UMSurabaya Sriyatin ini menegaskan bahwa paling tidak, penyatuan kalender Islam Global ini juga sangat erat dengan pertimbangan otoritas. Oleh karena itu, 3 otoritas ini akan menjadi penentu akseptabilitas (penerimaan) dan kekuatan pemberlakuan (ilzām, enforcement) Kalender itu sendiri.

Kalender itu harus disusun oleh otoritas organisasi Islam internasional, otoritas negara Islam yang kuat, dan oleh kalangan ekspertis / ulama, atau ilmuan-cendekiawan dunia yang diterima negara dan umat Islam.

Ke depan, perkembangan peradaban manusia akan ditentukan dengan kepastian prediksi yang semakin tepat dan akurat, semakin membuat kepastian dalam hukum dan ibadah. Entah, saat ini, entah 100 tahun lagi, kajian dan usaha menuju penyatuan kelender global akan terus memantul di ruang-ruang diskusi, dan -semoga- suatu saat bisa menjadi realitas bersama demi kepentingan umat Islam.

NB : Materi presentasi dari kedua pemateri, dan beberapa materi lain seperti hasil Rekomendasi Jakarta 2017 dan Kalender Islam Global 1442 H usulan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, bisa diunduh di tautan ini

 130 total kunjungan,  1 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment