Kajian hadis Kitab Muktār al-Aḥādīṡ al-Nabawiyyah wa al-Ḥikam al-Muḥammadiyah dwi mingguan oleh KH Abd Wachid Harun di Masjid Nurus Syafii Rahmah Wedi, Ahad 14 Maret 2021, sampai pada pelajaran ke 25 tentang kesunnahan mengingat kematian (istiḥbāb żikr al-maut) dan kemakruhan mengharapkan kematian (karāhiyyat tamannīhī).

gambar bertuliskan “kematian”, mengingatkan bahwa saat kematian hadir, perjalanan manusia di dimensi lain pun bermula (www.muslim.or.id)

Ayat yang kemudian dimunculkan oleh Syaikh al-Sayyid Aḥmad al-Hāsyimī Bik, penulis Kitab Mukhtār di atas, adalah ayat ke-9 dan ke-10 Sūrat al-Munāfiqūn :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang yang rugi (9) dan berinfaklah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu. Lalu ia berkata (menyesal) : “Ya, Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh (10)

Kehidupan yang sedang kita jalani, termasuk kebaikan yang kita upayakan dan kita tuju, seringkali membuat kita bersibuk ria dengan urusan masing-masing. Urusan tersebut, Gus Wachid menerangkan, paling tidak akan bermuara pada urusan duniawi atau harta benda, dan anak.

Ayat tersebut, menjadi pengingat kembali bahwa tujuan esensial dan fundamental penciptaan manusia untuk beribadah dan mengingat Allah, sebagaimana pesan Sūrat al-Żariyāt :56, seringkali terabaikan atau teralihkan karena urusan pekerjaan dan keluarga.

Maka memelihara aktivitas kebaikan dan ubūdiyyah kepada Allah, jangan sampai teralihkan, salah satunya karena urusan harta (amwāl) dan anak-anak (aulād). Tentu saja, itu tidak berarti urusan pekerjaan (al-ma‘īsyah) dan pengasuhan anak (tarbiyyat al-aulād) tidak mengandung kabaikan juga.

Mencari pekerjaan yang halal, adalah bagian dari syariat Islam dan kewajiban menafkahi keluarga (nafaqat al-‘iyāl) adalah kewajiban penting dalam relasi suami-istri. Maka, urusan dengan duniawi atau harta, tentu tidak selamanya buruk. Allah bahkan sempat menyebut “harta benda” dengan redaksi al-kair (makna asalnya : “kebaikan”) pada Sūrat al-Ādiyāt:8. Artinya, harta benda juga tersimpan potensi kebaikan.

Begitu pun dengan keturuan. Potensi kebaikan baik dalam pengasuhan (tarbiyah) maupun dalam hasil pembentukan generasi unggul, bukan generasi lemah (żurriyah ḍi‘āfan) sebagaimana pesan al-Nisā ayat 9, merupakan ikhtiar penuh kebajikan yang dilakukan seseorang. Bahkan, anak yang salih yang mendoakan orang tua, bisa menjadi amal jariyah kebaikan seseorang, sebagai hadis Sahih Muslim (1631), al-Nasā’ī (3653), dan Abū Dāwūd (2880).

Pesan dalam ayat ke-10 pada Sūrat al-Munāfiqūn di atas, menjadi penjelas (bayān) ayat sebelumnya. Bahwa hal ini terkait dengan “kedatangan” kematian, tentang kehidupan setelah kematian, dan juga tentang penyesalan atas kebaikan yang bisa dilakukan pada saat masih hidup.

Oleh karena itu, mengingat Allah (żikr Allah) yang dapat teralihkan oleh urusan duniawi dan keluarga bisa jadi karena kesadaran kita akan keterbatasan usia menjadi hilang. Kita tidak ingat kembali, akan kematian yang bisa datang kapan pun, dan menyergap ruh dan jasad kita.

Kalau kesadaran akan kematian itu tetap terjaga, niscaya anak dan keluarga, justru menjadi sarana jihad berjuang di dalam dan menuju kepada Allah. Begitu pun tentang harta. pengelolaan kita terkait duniawi, baik saat mencari kerja (ṭalab al-ma‘īsyah) maupun saat membelanjakan harta (taṣārruf al-amwāl) selalu berada dalam lindungan dan aturan Allah.

Syaikh Abū Bakar al-Baihaqī dalam Kitab Syu’ab al-Imān menukil hadis dari Ammār bin Yāsir, “Kafā bi al-Maut Wā‘iżan”, cukuplah kematian menjadi Juru Dakwah (Pendakwah) untukmu. Pendakwah yang mengingatkanmu, bahwa kematian pasti akan datang, dan setiap usaha yang kita kerjakan ada penilaian kelak di hari perhitungan (yaum al-ḥisāb).

Maka, ajakan untuk mengingat kematian, sebagaimana pernah menjadi gerakan di luar negeri sebagai Momento Mori (dari bahasa latin, yang berarti “Ingatlah hari kematianmu”), pada dasarnya adalah mengingat keterbatasan manusia, dan kembali untuk bersimpuh dalam ingatan kepada Allah (żikr Allāh).

 140 total kunjungan,  1 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment