Oleh : Mohammad Ikhwanuddin, Pendidik sekaligus Sekprodi Hukum Keluarga Islam UMSurabaya, Peneliti di Pushaka (Pusat Studi Hukum, Agama, dan Keluarga).

Gus Jun, sapaan KH Ach Noer Junaidi, sedang berbagi pengalaman tentang mendidik anak-anak, di Yayasan Islam Shafta, 06-03-2021 (dokumen Shafta)

Perkembangan dan pembiasaan bersama teknologi digital merambah dalam setiap sendi kehidupan. Mulai cara memilih makanan, berbelanja, memesan moda transporasi hingga cara kita belajar. Di tengah pembatasan kegiatan sosial saat ini, Pendidikan daring (online) menjadi harapan sekaligus tantangan bagi peserta didik.

Salah satu yang menjadi kegelisahan dan kekhawatiran sivitas akademik adalah tercerabutnya dimensi keteladanan dalam belajar digital. Pertemuan yang  “hanya” bertatap muka, atau interaksi akademik melalui media sosial, seringkali terlepas dari kaitan erat pendidikan moral di dalamnya.

Diskusi daring dan luring melalui Yayasan Islam SHAFTA Sabtu, 06 Maret 2021 menghadirkan pendidik sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren al-Quran (PPQ) Nurul Huda 2 Singosari Malang KH Ach Noer Junaidi.

Gus Jun, panggilan akrab KH Ach Noer Junaidi, menjelaskan bahwa pendidikan yang bermuara pada keteladanan merupakan hal yang tidak akan lekang oleh waktu.

Mendidik dengan keteladanan (uswah) mengingatkan kita pada sebuah paribahasa masyhur Arab, lisān al-hāl afṣaḥ min lisān al-maqāl. Lisan yang “menyuarakan” keteladanan” lebih kuat, faṣīḥ, dan bertenaga dari pada lisan yang hanya mengeluarkan perkataan semata.

Selanjutnya, Gus Jun mengingatkan kembali bahwa pendidikan keteladanan di era daring ini paling tidak bisa kita kawal dan jalani di 3 hal, yakni kedisplinan waktu (jam belajar), pakaian yang pantas, serta tata bahasa (bahasa tulis dan bahasa tutur) yang sopan.

Selain itu, Pengasuh PPQ Nurul Huda 2 yang memfasilitasi “mondok” bagi anak-anak usia TK-SD ini mengingatkan bahwa sebagai pendidik musti terus membersamai anak didik dengan cara terbaik, penuh kasih sayang, yang bisa diupayakan.

“ Di pondok kami, santri-santri memanggil saya dengan panggilan “Ayah”, dan memanggil istri saya dengan panggilan “Bunda”. Begitu Gus Jun mempraktikkan membersamai dengan rahmah, untuk memberikan kesan kedekatan emosional.

Karena saat anak kecil telah dititipkan di pondok, peran “mengasihi dan menyayangi” yang semestinya didapatkan dari orang tua, kini beralih pada guru, pendidik, atau pengasuh mereka.

Suasana daring di platform Zoom kajian bersama Gus Jun (dokumen pribadi)

Maka, menerima amanah untuk mendidik anak didik, bukan semata memastikan mereka dapat mengikuti sistem pembelajaran. Namun lebih dari itu, pendidikan musti diiringi dengan uswah (keteladanan), dan kehadiran pendidik bersama anak-anak perlu diiring kasih sayang terbaik yang bisa dilakukan.

 104 total kunjungan,  3 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment