Oleh : Mohammad Ikhwanuddin, Sekprodi Hukum Keluarga Islam dan Pembina al-Quran Penerima Beasiswa Kader Tarjih UMSurabaya

Dalam sebuah Orasi Penganugerahan Guru Besar Bidang Sejarah Pemikiran Islam berjudul “Masjid dalam al-Quran dan Hadis; Kontinuitas dan Kreatifitas Budaya”, Imam Ghazali Said menjelaskan bahwa Masjid menjadi penanda zaman (historis) yang melintasi sejarah waktu, latar sosial, dan pendulum kebudayaan yang menjadi milik kaum Muslim di berbagai penjuru dunia. (Said, 2019, p. 42).

Karena berkaitan dengan kebudayaan, maka relasi masyarakat muslim dan kreatifitas budaya yang terwujud tidak bisa terabaikan. Masjid pernah menjadi locus penguatan militer dan politik, ruang-ruang diskusi keilmuan, dan latar untuk saling tukar ide penyelesaian problem ekonomi dan sosial. Namun, di ujung pangkal semua kegiatan tersebut, ruh masjid masih tetap sebagai ma‘bad (tempat ibadah) dan tempat bersimpuh sujud kepada Allah.

Masjid, merupakan bentuk (ṣīgat) isim makān (kata tempat) dari kata kerja (fi‘l) sajada-yasjudu yang berarti sujud. Masjid adalah tempat bersujud. Mengenai sujud, Ahmad Warson al-Munawwir mengartikannya sebagai:

وَضْعُ جَبْهَتِهِ بِالأرْضِ مُتَعَبِّدًا

“ Meletakkan keningnya di bumi sebagai bentuk penghambaan” (Munawwir, 1997, p. 610)

Urgensi Masjid dalam lintas kebudayaan Muslim menjadi terurai dengan jelas, ketika melihat keterkaitan antara tujuan penciptaan manusia dan sujud sebagai ekspresi terbaik ibadah. Penciptaan manusia, sebagaimana pesan Sūrat al-Dhāriyāt:56, diorientasikan untuk beribadah pada Allah. Sementara sujud merupakan ekspresi ibadah yang paling dekat dengan Allah, sebagai pesan Nabi dalam Riwayat Muslim No.1111 (Muslim, n.d., p. 69).

Oleh karena itu, Masjid sebagai tempat beribadah (ma‘bad) dan bersujud pada Allah menempati tempat ritual terpenting dalam kualitas dan kuantitas keberagamaan seorang Muslim.

Gerakan Literasi al-Quran

Allah berulang kali menyebut diksi Masjid dalam al-Quran. Syaikh Alamī Zādah Faiḍullah al-Ḥasanī dalam Fatḥ al-Raḥmān mendokumentasikan 18 kali “masjid” disebut dalam bentuk tunggal (mufrad)dan 6 kali dalam bentuk plural  (Al-Ḥasanī, 2005, p. 152).

Pengulangan diksi masjid dalam literatur terpenting umat Islam al-Quran ini, menunjukkan bahwa Allah menempatkan hal yang sangat istemewa dalam masjid. Salah satu keistimewaan masjid adalah sebagai tempat tumbuh dan berkembang gerakan literasi al-Quran.

Dalam sebuah hadis panjang riwayat Muslim, Rasulullah bersabda :

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ 

“ Tidaklah suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah (Masjid), di mana mereka membaca Kitāb Allah (al-Quran) dan saling bertadarus bersama-sama di antara mereka, kecuali Allah akan menurunkan ketenngan pada mereka, rahmat Allah akan meliputi mereka, para Malaikat akan turut melindunginya, dan Allah akan menyebut (membanggakan) mereka kepada makhluk-makluk Allah yang ada di sisi-Nya”.

Hadis tersebut terdapat dalam al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ karya Imam Muslim, pada Nomor hadis 7028, yang menjelaskan tentang keutamaan berkumpul untuk membaca al-Quran (bāb faḍl al-ijtimā‘ ‘ala tilāwāt al-Qur’ān). Hadis yang sama juga diriwayatkan Sūnan Abī Dawud No. 1457 bab pahala membaca al-Quran (thawāb qirā’at al-qurān), al-Turmudhī No. 2945, Sunan Ibn Mājah No. 225, dan Aḥmad Ibn Ḥanbal No.7421.

Dalam redaksi matan yang lebih utuh pada riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ ».

“ Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda : Barangsiapa yang memberikan solusi atas kesulitan duniawi yang dialami oleh seorang mukmin, maka Allah akan memberikan solusi atas kesulitannya kelak di hari kiamat. Barang siapa yang yang memberikan kemudahan atas kesulitas orang lain, maka Allah akan memudahkan urusan dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah selalu akan menolong seseorang, yang mana dia masih peduli dan menolong orang lain. Barangsiapa yang berjalan mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga.”

 “Tidaklah suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah (Masjid), di mana mereka membaca Kitāb Allah (al-Quran) dan saling bertadarus bersama-sama di antara mereka, kecuali Allah akan menurunkan ketenngan pada mereka, rahmat Allah akan meliputi mereka, para Malaikat akan turut melindunginya, dan Allah akan menyebut (membanggakan) mereka kepada makhluk-makluk Allah yang ada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya (sedikit beramal), maka garis nasabya tidak akan mempercepat (amal kebaikannya).”

Secara umum, hadis di atas mengajak umat Islam untuk saling peduli atas keresahan, kegelisahan, dan kesulitan yang dirasakan orang lain. Selain itu, Rasulullah motivasi untuk bersemangat menuntut ilmu dan membaca al-Quran di Masjid. Khusus mengenai membaca (tilāwah) dan mempelajari bersama (tadārus) al-Quran di Masjid, Allah memberikan 3 keutamaan sekaligus, yakni turunnya ketenangan (nuzūl al-sakīnah) dan selubung rahmah (gishāwat al-raḥmah), perlindungan Malaikat serta Kebanggan di hadapan makhluk di sisi Allah.

Oleh karena itulah, Imam al-Nawāwī saat memberikan penjelasan (sharḥ) atas hadis ini menukil pendapat Jumhur Ulama yang menempatkan hadis ini sebagai dalil keutamaan berkumpul di masjid untuk membaca al-Quran (Al-Nawāwī, 1972, p. 63). Kendati demikian, lanjut Imam Nawāwī dalam proses ilḥāq, keutamaan berkumpul untuk membaca al-Quran juga bisa dicapai di beberapa tempat lain semisal sekolah maupun pesantren, namun taḥṣīl al-faḍīlah (perolehan fadilah) tentu lebih utama di Masjid.

Melakukan tilawah al-Quran, paling tidak bisa digapai dengan salah satu dari beberapa hal berikut yang pernah dinukil Imam al-Suyūṭī dari al-Qurṭubī di dalam kitab Syarh Muslim al-Dībāj ‘alā Muslim.

Al-Qurṭubī menjelaskan bahwa maksud dari tilawah itu bisa jadi salah satu dari tiga hal ini, yaitu membaca al-Quran dengan bacaan yang terbaik (ya’tūnā ‘alā aḥsani aḥwālihī), istiqomah membaca al-Quran (wāẓibūna ‘alā tilāwatihī), atau membaca dengan suara yang bagus (ḥusn al-ṣaut bi al-Qirā’ah).

Walhasil, aktivitas membaca al-Quran di Masjid merupakan hal utama dan istimewa dalam lintas sejarah klasik umat Islam. Terlebih, jika menautkan dengan makna “tadārus” yang bukan semata membaca, namun ada proses mempelajari dan memahami secara bersama.

Suasana tadarus al-Quran Jamaah Islahul Ummah di Masjid Nurus Syafii Rahmah Wedi, 28 Maret 2021 (Dokumentasi H Rasyidin)

Tadārus, berasal dari akar kata darasa yang berartikan mempelajari (Munawwir, 1997, p. 397), mendapatkan tambahan  tā’ di awal dan alif setelah fa’ fi’il sehinggaberartikan kebersamaan antara dua orang atau lebih (al-mushārakat baina ithnain faakthara) (Ali, 1965, p. 18) untuk mempelajari sesuatu . Maka tadārus adalah upaya yang dilakukan bersama antara dua orang lebih untuk mempelajari al-Quran.

Kegiatan literasi awal al-Quran bisa dilakukan dengan membaca, paling tidak membaca dengan baik dan benar sesuai dengan aturannya (mujawwadat al-qirā’ah). Kegiatan tadārus al-Quran, yang biasa dilakukan bergantian di mana ada yang membaca (qāri’ atau tāli al-Quran) dan ada yang menyimaknya (mustami’), merupakan relasi pertama kita dengan al-Quran. Tadārus berikutnya, semestinya, mulai dengan kajian dan pemahaman makna ayat al-Quran (fahm al-naṣṣ) dan melakukan refleksi (tadabbur) atas al-Quran, hingga mencapai dalam level tertentu berupa pengamalan terhadap al-Quran. Mulai al-Qirā’ah/tilāwah, lalu tadabbur dan kemudian al-‘amal (pengamalan) merupakan mata rantai yang saling terkait. Di sinilah al-Quran bukan semata menjadi apa yang dibaca (al-quran bi ma‘na al-maqrū’) namun menjadi apa yang difahami, dan diikuti sebagai pedoman (hudā) manusia.

 119 total kunjungan,  3 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment