” Konflik yang bergejolak didalam keluarga pada masa pandemi Covid-19 ”

Pada masa pandemi seperti ini didalam sebuah keluarga mustahil jiga tidak adanya konflik yang bergejolak entah itu konflik yang berskala kecil ataupun konflik yang berskala besar. Biasanya konflik terjadi berawal dari status perekonomian yang sebelum pandemi sudah tertata dengan tanda kutib masih tercukupi dan memasuki masa pandemi perekonomian menurun yang dipengaruhi oleh pabrik ataupun pt yang melakukan pengurangan pegawai ataupun pHK secara masal, tentu demikian sangatlah berpengaruh besar dalam sebuah manajemen keluarga yang notabene perekonomiannya menengah, bagaimana jika status perekonomian keluarga tersebut menengah kebawah dan mengalami deretan peristiwa yang demikian rupa justru malah membuat sebuah keluarga akan mengalami titik terendah dalam kehidupan karena status ekonomi yang rendah untuk biaya kebutuhan pangan pun belum tentu tercukupi belum lagi biaya sehari-hari seperti listrik, air, dan biaya pendidikan anak.
Walaupun sekarang dunia pendidikan telah dialihkan dengan sistem daring atau online tetapi tidak menutup kemungkinan masih ada biaya yang harus dikeluarkan entah itu untuk membeli gadget, membeli kuota, membayar uang SPP jika sang anak masuk ke sekolah yang berbayar atau biasa disebut dengan sekolah swasta belum lagi jika anak adalah seorang mahasiswa yang membutuhkan biaya yang lumayan besar. Maka dari itu mungkin sedikit dari banyaknya pelajar ataupun mahasiswa memilih untuk bekerja sampingan untuk membiayai biaya hidup sehari-hari mereka, dan mencari pekerjaan yang sekiranya tidak mengganggu pendidikan para pelajar dan mahasiswa tersebut.
Lalu bagaimana cara untuk menstabilkan konflik yang terjadi di dalam keluarga saat masa pandemi covid-19 ?
Peran orang tua sebagai tulang punggung keluarga tidak akan kehabisan akal untuk menstabilkan perekonomian yang mungkin menjadi salah satu sumber terbesar terjadinya konflik di dalam sebuah keluarga. Disini peran orang tua akan selalu mencari berbagai cara untuk menstabilkan lagi perekonomiannya lagi walaupun orang tua harus bekerja lebih berat dari sebelumnya karena orang tua yang sesungguhnya akan slalu memikirkan bagaimana caranya agar semua kebutuhan keluarga. Dan beberapa anak mungkin akan bekerja walaupun hanya cukup memenuhi kebutuhannya sendiri tetapi tidak semua anak akan berpikiran demikian dan pemikiran tersebut hanya dimiliki anak apabila seorang anak mampu memahami kondisi keuangan atau perekonomian keluarga khususnya orang tua.

NAMA : MUSA
NIM : 20181551035
Prodi Hukum Keluarga Islam Semester 5

 73 total kunjungan,  1 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment