Suatu hari, seorang pengusaha sedang mengendarai mobil di suatu jalan tol yang di sampingnya terdapat sawah yang luas. Dilihatnya para petani lagi istirahat di bawah pohon yang rindang nan syahdu. Orang yang lagi asyik di dalam mobil mewahnya itu memerhatikan si petani dan bergumam dalam hatinya “Alangkah senangnya petani itu bisa istirahat di siang hari, sembari menikmati makanan dan minuman sederhana yang dihidangkan oleh tuan rumah yang punya hajat, bisa bercengkerama dengan koleganya, dan merasakan keindahan alam di sekelilingnya.”

Di waktu yang sama, si petani yang sedang duduk santai mengarahkan pandangannya ke arah jalan tol yang dilintasi pengusaha itu. Sambil menikmati makanan yang ada di depannya, lantas ia berkata kepada teman di sampingnya, “Enak ya jadi orang kaya, bisa naik mobil mewah, bisa jalan-jalan kemana-mana tanpa kepanasan dan kehujanan. Seandainya Aku jadi orang tajir dan punya kendaraan seperti itu, pasti Aku sangat bahagia”.

Kisah singkat di atas menceritakan 2 orang yang profesinya berbeda, yaitu seorang petani dan pengusaha yang kaya raya. Keduanya saling memerhatikan pekerjaan yang sedang diembannya. Seolah-olah turut merasakan apa yg sedang dialami masing-masing keduanya.

Pembaca yg budiman, betapa hidup ini penuh warna, membuat manusia memiliki beraneka macam profesi. Ada yang bekerja di pemerintahan seperti Presiden, Menteri, Gubernur dan lainnya, ada juga yang di luar pemerintahan seperti wiraswasta, buruh, nelayan dan sebagainya. Masing-masing memiliki peran yang sangat penting dan saling melengkapi satu sama lain. Semua itu merupakan amanah dari Yang Maha Kuasa yang harus dilaksanakan dengan saksama untuk mencapai hasil yang optimal dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan-Nya.

Jika diperhatikan, kedua orang dalam kisah di atas, masing-masing seakan-akan tidak puas dengan apa yang dikerjakannya, bahkan merasa yang dipandangnya (orang lain) lebih baik dari dirinya. Hal itu bisa dikatakan bahwa profesi yang dijalankan kurang memberikan nilai tambah, walaupun dengan profesi itu org lain mengagung-agungkan dan memuliakannya.

Sejatinya, kemuliaan seseorang tidak dinilai dari seberapa tinggi jabatan dan kedudukan pekerjaannya, tetapi sejauh mana ketaqwaan dan kedekatannya kepada Allah SWT. Seorang Presiden belum tentu lebih mulia dan hari-harinya lebih bahagia di banding orang yang mungkin sering dianggap rendah seperti tukang tambal ban, petani dan lainnya. Semuanya kembali kepada bagaimana ia menjalankan tugasnya dengan sebenar-benarnya. Walaupun saat ini seringkali orang yang memiliki takhta merasa dirinya lebih bersahaja dari rakyat biasa dan masyarakat lebih menghormatinya dari yang lain.

Acap kali banyak orang terjebak pada persepsi yang materialistis. Dikiranya orang yang banyak harta dan punya kedudukan tinggi selalu bahagia dan dianggap mulia. Padahal, pokok kebahagiaan itu terletak pada hati (Qalb), sebagaimana ada ungkapan bahwa tiada kekayaan yang lebih kaya dari pada tenangnya hati. Sebanyak apa pun harta yang dimiliki kalau hati tidak lapang dan selalu gelisah, maka kebahagiaan belum lah ia dapatkan.

Hamka dalam “Tasawuf Modern” nya menuturkan, “Sebab-sebab untuk mencapai bahagia amat banyak. Akan tetapi kita manusia mencari juga yang lain. Dia ada dalam tangan kita, tetapi kita cari yang ada di tangan orang lain karena yang di tangan orang itu kelihatan indah.” Dari situ jelaslah bahwa ekspresi penampakan lahir tidak selalu sama dengan sikap batin. Melihat sesuatu terasa indah dan bahagia, padahal dalam dirinya tidak demikian.

 276 total kunjungan,  1 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment