Ketika berkendara di jalan umum, masih sesekali terlihat gambar belakang truk, yang menampilkan foto Soeharto dengan slogan “Piye kabare, iseh penak zamanku to?”, yang bisa diterjemahkan, “Bagaimana kabarnya?, masih enak zaman saya kan?”.

Salah satu foto di bagian belakang truk tentang Soeharto dan slogan yang menyertai (twitter.com)

Ternyata, di belantara media sosial, slogan tersebut juga tersebar. Soeharto, dibenci sekaligus dirindukan. Saya tidak bisa memberikan istilah yang tepat, namun jika percaya akan keragaman identitas, sementara, saya bisa katakan “Multiple Contradictory Indentities

Senada dengan lagu “Antara Benci dan Rindu” yang dilantunkan Mbak Ratih Purwasih. Benci…benci…benci…tapi rindu jua. Barangkali, memang hal itu yang sebagian dirasakan oleh seseorang, dengan lintas latar, lintas iman, dan lintas usia, pada sosok bernama Soeharto.

Dalam sebuah Webinar saat membedah buku karya Prof Ahmed T Kuru (Zoom, 31 Januari 2021), Mas Gus Ulil Abshor Abdallah sempat menyinggung akidah asy’ariyah. Dulu, akidah ini dianggap beberapa pihak sebagai biang keladi kemunduran Islam. Watak fatalism (jabariyyah) tidak menciptakan etos kerja kemajuan.

Namun, lanjut Gus Ulil, pasca teror 9/11 dan merebaknya aksi-aksi terorisme di belahan dunia, akidah asy’ariyah dilirik kembali dan dipuji sebagai sumber moderasi Islam, karena watak humanisme dan prinsip tanpa takfīr dianggap sebagai nalar moderasi untuk hidup berdampingan dengan sesama manusia di bumi yang sama ini.

Jika bertanya pada diri lebih dalam, apakah identitas ganda yang kontradiktif itu nyata? Atau, apakah Multiple Contradictory Indentities juga ada di lubuk terdalam diri kita ?

 40 total kunjungan,  1 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment