Berita dan Pengumuman

Pengamatan Gerhana Bulan Total sebagai Media Edukasi Astronomi dan Refleksi Spiritual di Universitas Muhammadiyah Surabaya

  • Di Publikasikan Pada: 03 Oct 2025
  • Oleh: Admin Prodi HKI

Ahad – Senin, 7-8 September 2025, langit Indonesia dihiasi oleh sebuah fenomena alam yang memukau. Bulan yang biasanya tampak putih pucat perlahan berubah warna menjadi merah tembaga. Fenomena ini dikenal sebagai Gerhana Bulan Total, atau yang lebih populer disebut dengan istilah Blood Moon. Dari wilayah Surabaya, gerhana dapat diamati dengan jelas mulai pukul 23.27 WIB dan berakhir pada pukul 02.56 WIB. Puncak gerhana terjadi tepat pada pukul 01.11 WIB, di mana selama 1 jam 22 menit Bulan sepenuhnya berada dalam bayangan Bumi.

Di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), momen langka ini disambut hangat oleh Klub Astronomi Galator yang menggelar kegiatan pengamatan bersama dengan tema “Satu Langit, Satu Indonesia.” Kegiatan tersebut dilaksanakan di rooftop lantai 4 At-Tauhid Tower, dengan dihadiri mahasiswa dan dosen dari Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), Fakultas Agama Islam. Suasana kebersamaan begitu terasa ketika para peserta berkumpul untuk menyaksikan salah satu fenomena langit terbesar pada tahun ini.

Sebelum pengamatan dimulai, peserta terlebih dahulu mendapatkan pembekalan materi dari pembina Klub Astronomi Galator, Ibu Andi Sitti Maryam, M.Si. Beliau menegaskan bahwa gerhana tidak hanya sekadar tontonan langit, tetapi juga bagian penting dari kajian ilmu falak yang memiliki kaitan erat dengan syariah Islam, terutama dalam penentuan kalender hijriah dan waktu-waktu ibadah. “Pengamatan ini bukan hanya mengasah pengetahuan astronomi mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat agar semakin dekat dengan tanda-tanda kebesaran Allah,” tutur beliau.


Memasuki pukul 01.00 WIB, di tengah redupnya cahaya Bulan yang tertutup bayangan Bumi, para peserta melaksanakan Shalat Khusuf (shalat gerhana bulan). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib adalah Dr. Mohammad Ikhwanuddin, S.H.I., M.H.I., Kaprodi HKI UM Surabaya. Dalam khutbahnya, beliau mengingatkan bahwa gerhana merupakan salah satu ayat Allah, tanda kebesaran-Nya di jagat raya. “Salat gerhana disunnahkan dalam Islam dengan hikmah agar umat senantiasa mengingat-Nya melalui tanda-tanda kebesaran-Nya. Setiap fenomena alam adalah wujud dari ketetapan dan ukuran yang telah Allah gariskan,” tegasnya.

Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan nilai edukasi astronomi, tetapi juga memperkuat dimensi spiritual dan kebersamaan sosial. Bagi mahasiswa, pengalaman menyaksikan gerhana secara langsung sambil melaksanakan ibadah berjamaah meninggalkan kesan yang mendalam. Rayhan Ilman, Ketua Klub Astronomi Galator sekaligus mahasiswa HKI semester 7, mengungkapkan rasa syukur dan kekagumannya. “Fenomena langit seperti gerhana mampu menarik ketertarikan masyarakat. Momen ini dapat dijadikan sarana menyatukan anak bangsa, menengadahkan wajah dengan perasaan yang sama, serta melabuhkan doa pada Tuhan yang sama. Satu langit, Satu Indonesia,” ujarnya dengan penuh makna.


Tim Galator juga mendokumentasikan seluruh fase gerhana, mulai dari awal hingga akhir, sehingga peristiwa ini menjadi catatan penting bagi pengembangan kajian astronomi di UM Surabaya. Lebih dari sekadar peristiwa ilmiah, Gerhana Bulan Total pada 7-8 September 2025 telah menjadi pengingat spiritual sekaligus perekat sosial. Di bawah langit yang sama, masyarakat dari Surabaya hingga pelosok negeri menyaksikan peristiwa langit yang identik, seolah dipertemukan dalam rasa kagum yang kolektif terhadap ciptaan-Nya.

Dengan demikian, kegiatan pengamatan Gerhana Bulan Total yang diselenggarakan oleh Klub Astronomi Galator UM Surabaya tidak hanya berhasil memperkaya wawasan ilmiah para peserta, tetapi juga memperkuat kesadaran spiritual dan nilai kebersamaan antar sesama. Peristiwa ini akan selalu dikenang sebagai bagian dari perjalanan intelektual, sosial, dan religius civitas akademika Universitas Muhammadiyah Surabaya.