Oleh Mohammad Ikhwanuddin, Sekprodi Hukum Keluarga Islam dan Peneliti di Pushaka (Pusat Studi Hukum, Agama dan Keluarga) UMSurabaya

Dalam sebuah penjelasan terkait ilmu yang bermanfaat, Rasulullah mengingatkan akan potensi ilmu sebagai anugerah yang pahalanya akan terus mengalir kepada pemiliknya, bahkan saat orang berilmu tersebut telah meninggal.

Dari Abu Hurairah, Rasullullah bersabda :

إِذَا مَاتَ الِإنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ؛ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أوْ عِلمٍ يُنتَفَعُ بِهِ، أوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه

 “ Jika manusia telah meninggal dunia, maka amal perbuatannya akan terputus, kecuali 3 hal, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakan orang tua”.

Hadis Sahih tersebut diriwayatkan oleh Imām Muslim No. 1631, al-Nasā’ī No.3653, Abū Dāūd No. 2880, dan al-Turmużī No. 3651.

Pada hadis tersebut, ilmu yang bermanfaat memiliki potensi besar untuk menjadi pahala “passive income” bagi orang yang berilmu. Oleh karena itu, dalam Islam, proses ījād al-ilm wa nasyrihi (penemuan ilmu dan penyebarannya) dan transfer pengetahuan (al-ta’āllum wa al-ta‘līm, belajar-mengajar) memiliki posisi yang mulia.

Di sinilah mata rantai pengetahuan yang bermanfaat, bisa terus dimanfaatkan oleh orang lain, bahkan oleh beberapa generasi setelahnya. Kemanfaatan tersebut bersifat “jāriyah”, mengalir, dan terus menerus mengalirkan pahala kebaikan pada pemiliknya.

Sebaliknya, jika pengetahuan / ilmu tersebut tidak bermanfaat, atau berisi kebongan dan dusta semata, itu memiliki potensi “jāriyah” yang sama, tapi kesalahan yang terus berulang, dan mengalir yang justru menjebak orang lain, bahkan di dekade-dekade manusia setelahnya.

TurnBackHoax pernah disebut Kominfo sebagai komunitas online anti hoax Indonesia. Dengan alamat https://turnbackhoax.id/, situs ini menjadi arsip hasil diskusi grup Forum Anti Fitnah, Hasut dan Hoax (FAFHH) (foto : kominfo.go.id)

Dalam sebuah diskusi di Maqasid Centre, sebuah kanal bersama para pengkaji dan peneliti Maqasid Syariah, kita menyadari bahwa hoax itu bisa berpotensi menembus ruang dan waktu (plesetan kaidahnya, al-khid‘ah “ṣāliḥ” li kulli zamān wa makān ).

Hal ini dikarenakan kebohoan dalam pengetahuan di era informasi digital ini bisa terjadi berulang kali pada beberapa tempat yang berbeda (medsos platform yang berbeda, batas teritori yang berbeda) dan waktu yang berbeda (hoax beberapa tahun silam, masih bisa muncul beberapa tahun setelahnya).

Di era digital ini, pengetahuan atau informasi bohong terkadang memang sengaja dibuat. Uniknya, saat ini pembuat berita yang tidak benar, terlepas sengaja atau tidak, memiliki mata rantai (isnād) yang membuat berita menyebar di tangan penyebar dan pencintanya.

Seorang mahasiswa saya, sebut saja (Z), pernah mengaku bekerja di sebuah platform digital yang tugasnya hanya menyebarkan pesan, info, foto tautan yang diberikan oleh perusahan, di beberapa akun medosnya. Pekerjaan “forward” pesan ini pernah saya sebut sebagai viralis, orang yang bertugas mem-viral-kan pesan tertentu.

Jika pesan tersebut menjadi viral, termasuk pesan di medsos WhatsApp yang kini diberi penanda “forwarded many times”, maka potensi ilmu, pengetahuan , dan berita menjadi kesalahan yang mengalir (khaṭīah Jāriyah) semakin besar.

Oleh karena itu, penting untuk “saring sebelum sharing”, sebagaimana pesan Nadirsyah Hosen, akademisi muslim Indonesia yang menjadi pendidik di Monash Australia. Jika terlanjur “menebar hoax” dengan tidak sengaja, maka menyegerakan minta maaf, menghapus pesan -jika sempat- dan meminta teman lain tidak menyebarkan, adalah salah satu tindakan yang sangat terpuji.

Jadi,  Mau nih, kita terus mendapatkan “kiriman dosa jariyah” ?

 104 total kunjungan,  2 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment