Sebuah diskusi dengan seorang dosen bernama Bapak Mukhlas dari Tim Abdimas LPPM UMSurabaya, mengingatkan saya seorang teman bernama Mukhlis. Ingatan ini pun membawa saya pada sebuah memori percakapan kecil antara saya dengan seorang guru.

Suatu ketika, guru saya bertanya : “ Mas Ikhwan, sebenarnya kita sebagai hamba itu berusaha ikhlas, atau pasrah saja biar Allah yang mengikhlaskan kita?”. Saat itu, saya tidak yakin memberi jawaban apa, tapi yang saya ingat, guru saya berkata bahwa kualitas hamba yang diikhlaskan Allah tentu memiliki tempat yang lebih istimewa.

Sebuah gambar sederhana bertuliskan ikhlas (إخلاص). Ikhlas, meski terdengar dan terucap sederhana, tapi makna dan praktiknya tidak sesederhana itu (gambar dari safinah-online.com)

Saya berusaha melacak dengan data sementara, terkait bagaimana diksi “ikhlas” dinarasikan dalam al-Quran. Pelacakan terkait sebaran ayat, biasa saya mulai dengan membuka kamus indeks al-Quran, dan kamus dengan jenis tersebut yang saya miliki adalah al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Quran, atau biasa disebut dengan Fatḥ al-Raḥmān li Ṭālib Āyāt al-Qurān karya ‘Alamī Zādah Faiḍullah al-Ḥasanī.

Pada kitab tersebut, diksi ikhlas berikut derivasi (isytāq) dari kata “ikhlas” tersebar dalam 30 ayat (Fatḥ al-Raḥmān :99), penggunaanya bisa khalaṣū, akhlaṣu, astakhliṣhu, mukhliṣ dan lain sebagainya.

Idealnya, jika menyebut orang yang ikhlas sebagai isim fāil (pelaku), cukup menarasikan dengan mukhliṣ, sebagaimana tersebar dalam Sūrat al-Ḥujurāt ayat 2, 11, dan 14. Namun ternyata, Allah juga menggunakan redaksi mukhlaṣ (diikhlaskan) pada Sūrat Maryam : 51.

وَٱذۡكُرۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ مُوسَىٰٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ مُخۡلَصٗا وَكَانَ رَسُولٗا نَّبِيّٗا 

“ Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Nabi Musa dalam al-Kitāb (al-Quran), dia benar-benar Mukhlaṣ, yang terpilih sebagai seorang rasul dan nabi”.

Allah menggunakan diksi “mukhlaṣ” pada hamba yang terpilih, dan makna “yang terpilih” ini pun menjadi cara mufassir al-Quran dalam mengartikan mukhlaṣ. Saat mengomentari Surat Maryam ayat 51 tersebut, salah satu ulama al-Azhar sekaligus Mufti Mesir era 1946-1950, Syaikh Muhammad Hasnin Muhammad Makhlūf berkata dalam Kitab Tafsīr wa Bayān ; Kalimāt al-Qurān al-Karīm berkata:

Bahwa Musa sebagai mukhlaṣ adalah Musa diikhlaskan Allah (akhalaṣahullah) dan Allah memilihnya (iṣṭafāhū). Jadi, baik “hamba yang ikhlas” (mukhliṣ), atau “hamba yang diikhlaskan” (mukhlaṣ) sama-sama sebagai 2 diksi yang muncul dalam al-Quran.

Meski demikian, ada 2 informasi penting lain terkait dengan ini. Pertama, bahwa pembacaan muklaṣ dalam Sūrat Maryam tersebut ternyata ada sebagian ahli qirā’at (ahl al-qurrā’) yang tetap membacanya dengan “mukhliṣ”. Hal itu sebagaimana pernah didokumentasikan oleh Mufassir ternama Ibn Kathīr dalam tafsir al-Qur’ān al-Aẓīm.

Kedua, saat diksi hamba (ibād) dimunculkan sendiri bersandingkan dengan keikhlasan. Ada 8 ayat yang muncul di 4 Surat berbeda, yakni Sūrat Yūsuf : 24, al-Ḥijr : 40, al-Ṣāffāt : 40, 74, 128, 160, 169, dan Ṣād : 83.

Dari kedelapan ayat tersebut, penyifatan hamba/ hamba Allah dengan karakter ikhlas tertulis langsung tersambung (kata “mukhliṣīn” sebagai ṣifāt), kecuali dua ayat, yakni al-Ḥijr:40 dan Ṣād : 83 yang sama-sama terdapat sisipan “minhum” (sebagian dari mereka). Uniknya, di kedua ayat ini pula, redaksinya sama-sama menggunakan al-mukhlaṣīn, bukan al-mukhliṣīn.

Maka, jika mengikuti jalur kompromi (al-jam’ wa al-taufīq), keikhlasan itu diupayakan. Merupakan usaha spritual dan ikhtiar dzahir-batin hamba untuk memasrahkan dan memurnikan ritual ibadahnya hanya pada Allah.

Tapi sebagian dari hamba tersebut (minhum, min al-‘ibād) ada yang diberi anugerah Allah, untuk terpilih menjadi hamba yang dekat pada Allah, sehingga dia tidak berinisiatif sendiri atas keikhlasan yang dijalani, tapi justru “diikhlaskan” oleh Allah.

Dalam sebuah pembelajaran tazkiyat al-nafs (pembersihan diri), seringkali kita diajarkan, bahwa pada dasarnya, seluruh kenikmatan yang kita terima, itu adalah murni pemberian (faḍl) dari Allah. Tentu, manusia bisa saja turut berkontribusi dengan usaha (iktiyār) yang dijalani dan kemampuan (Qadr) sesuai kapasitasnya.  Tapi di ujung dan pangkal semua kemampuan itu, ada kemampuan Allah (Qadarullāh) yang melingkupi segala sesuatu.

 215 total kunjungan,  2 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment