Oleh Mohammad Ikhwanuddin, Pendidik di Prodi Hukum Keluarga Islam, Pembina al-Quran Program Pembinaan Beasiswa Kader Tarjih HKI UMSurabaya.

Dalam kehidupan umat Islam, al-Quran diposisikan sebagai petunjuk (hudā)dan pedoman dalam kehidupan. Petunjuk untuk menunjukkan jalan kebenaran yang sesuai dengan tuntunan ilāhi. Selain itu, al-Quran diharapkan kelak menjadi penolong, pemberi syafaat (syafī’an) kelak di hari akhir.

Demikian salah satu materi yang diberikan dalam kajian Sabtu di Yayasan Islam Shafta bersama Pengasuh Pondok Pesantren al-Quran Nurul Huda Singosari, KH Ibnu Hamdun M.Pd, Sabtu, 20 Maret 2021.

Gus Hamdun sedang memberikan pengalaman berinteraksi dengan al-Quran, di Shafta, 20 Maret 2021 (tangkapan layar pribadi saat webinar)

Pada kesempatan itu, Gus Hamdun, panggilan KH KH Ibnu Hamdun, mengingatkan agar senantiasa mulāzamah (terus-menerus) membersamai al-Quran. Karena fasilitas pemberian syafaat diprioritaskan pada “sahabat” al-Quran.

Rasulullah bersabda :

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

Dari Abū Umāmah al-Bahilī berkata, saya mendengar Rasulullah bersabda : Bacalah al-Quran, karena al-Quran akan datang sebagai penyelamat (pemberi syafaat) bagi para sahabat-sahabat al-Quran”.

Hadis di atas, dengan redaksi yang sedikit lebih panjang, diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Jāmi’ al-Ṣaḥīh No. 1910. Selain itu, hadis juga dikoleksi dalam Musnad Aḥmad bin Ḥanbal No. 22247 dan Sunan al-Kubrā li al-Baihaqī No. 4227.

Menjadi sahabat al-Quran tentu saja memosisikan diri kita untuk selalu membersamai al-Quran. Membuat bibir kita selalu basah dengan mendaras al-Quran, memahami yang tertuang dalam al-Quran, serta mengamalkannya.

Hal ini selaras dengan petuah Dr Kamil al-Lāboody, pemilik Markaz Tabarak li Taḥfīẓ al-Qur’ān di Mesir, bahwa interaksi dan relasi kita terhadap al-Quran itu paling tidak dengan 3 hal, yakni bi al-Qirā’ah (dengan membaca), bi Tadabbur (dengan memahami dan merenungkan maknanya) serta, bi al-‘Amal (dengan mengamalkannya).

Gus Hamdun juga mengingatkan, khususnya kepada para pendidik, untuk senantiasa membaca al-Quran secara istikamah (istiqāmah). Beliau berkisah, bahwa pengalamannya dalam menerima hafalan al-Quran, saat beliau sendiri sudah murāja‘ah al-Quran, proses taḥsīn dan taḥfīẓ yang dilakukan para murid juga dirasakan lebih mudah.

Dalam prinsip pendidikan dalam Islam, guru yang berfilosofi digugu (dipercaya atau dipatuhi) dan ditiru (diikuti atau diteladani) memiliki kekuatan yang lebih tinggi dalam proses transfer of knowledge dengan memberikan keteladanan melalui lisān al-ḥal, melalui keteladanan praktis.

Maka, pendidik yang membiasakan berinteraksi dengan al-Quran, baik di rumah maupun di sekolah, akan memiliki nilai “digugu” dan “ditiru” lebih besar dalam memberikan energi positif dan efek membangun siswa di sekitarnya.

Mengenai pembacaan al-Quran di rumah, Gus Hamdun menukil hadis Rasulullah :

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” نَوِّرُوا مَنَازِلَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ “

Dari Sahabat Anas berkata, Rasulullah bersabda : Terangilah rumah-rumah kalian dengan salat dan membaca al-Quran”.  Hadis ini dinukil dalam Kitab Syu’ab al-Īmān karya Abū Bakr Aḥmad bin al-Ḥusain bin ‘Alī bin Mūsā al-Khusraujirdī al-Khurrāsānī al-Baihaqī, hadis No. 1875.

Rumah yang di dalamnya ada al-Quran yang dibaca, bukan semata sebagai pajangan – sindir Gus Hamdun- akan memiliki nūr (cahaya) ilahi, yang membuat rumah dan seluruh rumah penghuninya terberkahi. Aura kebaikan akan memancar dari penghuni rumah yang membiasakan tilawah al-Quran.

Bahkan, lanjut Gus Hamdun, al-Quran bukan saja bermanfaat pada kita di dunia sebagai nūr, namun juga menjadi menjadi simpanan amal kebaikan yang pasti dicatat oleh Allah. Rasulullah bersabda:

عَلَيْكَ بِتِلاَوَةِ اْلقُرْآنِ وَذِكْرُ اللهِ فِإنَّهُ نٌوْرٌ لَكَ فِي اْلأرْضِ وَذُخْرٌ لَكَ فِي السَّمَاءِ

Tetaplah kalian membaca al-Quran dan berdzikir kepada Allah. Karena hal itu menjadi cahaya (Nūr) bagimu di dunia, dan menjadi simpanan kebaikan (yang dicatata) di langit”. Hadis diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ ibn Ḥibbān No. 361. Hadis serupa, dengan sedikit perbedaan redaksi, juga terdapat dalam al-Mu’jam al-Kabīr li al-Ṭabrānī No. 1628 dan Syu’ab al-Īmān No. 4592.

Semoga kita termasuk hamba Allah yang senantiasa membersamai al-Quran dalam lisan, pikiran dan seluruh anggota tubuh kita. Sebuah kebersamaan yang menjadikan kita layak disebut sahabat al-Quran (Aṣḥāb al-Qur’ān) dan kelak berhak mendapatkan bantuannya, di hadapan Allah.

 295 total kunjungan,  1 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment