Aku Muda Aku Netral

Ada yang berjuang tapi tak dihiraukan, lalu dalam diam ia meneguhkan keimanan.
Ada yang berjuang tapi begitu banyak perbedaan, hingga kegoyahan menjadi teman.
Ada juga yang berjuang hanya dengan rebahan, mendapatkan tempat perjamuan.
Kadang, berjuang tak selalu berujung dengan gemuruhnya tepuk tangan, atau bahkan tangisan dan pengorbanan.
Berjuang atau memperjuangkan? Itu bukan pilihan tapi kewajiban, kadang ada masanya kita diperjuangkan ada masanya juga kita memperjuangkan. Hukum alam selalu ada, tidak statis tapi sistematis, bergerak. Butuh kesiapan dalam setiap keadaan, logika harus tetap ada, perasaan juga ada untuk saling memahami, agar egoisme tak menjadi-jadi. Disini, kisah negeri yang penuh dengan kisah sumbangsih. Hingga muncul kata “Apa sumbangsihmu kepada negerimu?apakah yang kau tahu hanya demo?kau anak muda, milenial, berpendidikan, tapi kenapa mudah sekali dijadikan korban” . Aku adalah Netral yang sangat jauh berbeda dengan Fanatik, lebih berat rasanya, karena memilih jalan tengah diantara dua jalan yang sudah ramai disusuri oleh teman yang juga seperjuangan.
Apa yang baik dari jalan kanan kita ambil, apa yang baik dari jalan kiri juga kita ambil, dan apa-apa yang tidak baik dari keduanya kita tepiskan dan jangan amalkan karena tidak ada dalam tuntunan. Melek literasi, melek informasi akan negeri ini, penting bahkan sangat penting. Jangan buta, jangan tuli, apalagi abai dan tak mau mengerti, karena itu pasti berimbas di kehidupan kemudian hari. Perjuangan tak selalu tentang berkorban, memilah mana yang baik dan buruk juga termasuk dalam berjuang, memperjuangkan diri sendiri Agar tak mudah terprovokasi. Cerdas, berintegritas, tanggap, sigap, tak goyah jika tiba-tiba ada masalah.
Jika penulis berjuang dengan tumpukan kata dan tinta penanya, jika nelayan berjuang dengan ombak lautan, jala demi cuan (uang) untuk asupan, jika petani berjuang dengan traktornya, jika masinis berjuang dengan laju keretanya. maka biarkan kami, anak muda negeri ini mencari jati diri, jangan kucilkan, meremehkan atau bahkan menghanguskan semangat kami, kami hanya butuh semangat dan pembenaran, salah maka tunjukkan, benar maka dorong semangat kami untuk berkarya lebih demi negeri ini.
Katanya (aku sudah berjuang kok,) iya berjuang dengan perasaan, hanya lewat selayang pesan WhatsApp sudah dihitung sebagai perjuangan. Kalau tak berujung persatuan hancur berantakan, anak muda jaman ini terlalu bawa perasaan kan? Perasaan lebih dominan ketimbang logika, habis mati dijajah oleh perasaan sendiri sebelum berkarya lebih untuk negeri. Aksi, bukan janji. Berjanjilah jika kau sanggup beraksi, setiap kita adalah pemimpin dan setiap kita adalah penanggung jawab atas kepemimpinannya.
Ada yang patah sebelum air keringat mengucur deras ditubuhnya, ada yang mundur sebelum bertempur, bahkan ada yang menyatakan kalah dengan mudah, hanya karena sudah dijajah lebih dulu dengan perasaannya yang terus menghalu. Bagaimana pemuda negeri ini tuan? Perasaan lebih dominan dari pada logika, sedangkan peradaban maju karena logika bukan perasaan belaka. Jangan terlalu dimanja jangan juga terlalu dipaksa, seimbangkan saja keduanya. Jika ia (pemuda) paham pahit manisnya kehidupan maka ia akan berjuang walau tanpa pedang di genggaman. Kadang ia hanya menggunakan semangatnya tanpa logika, generasi peresah, selalu bebuat ulah, dipikir tanpa dipahami, lalu berujung aksi yang nyatanya belum paham dengan problematika negeri ini. Berpikirlah, Bertabayyunlah, dan berujung aksi yang sesungguhnya bukan seperti mereka yang hanya mengikuti euforia.

 116 total kunjungan,  2 kunjungan hari ini

Like and Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment